Museum Karaeng Pattingalloang, Saksi Bisu Cendikiawan Kerajaan Gowa Pada Zamannya

Monday, March 26th, 2018 - Sulsel, Wisata Budaya

Museum Karaeng Pattingalloang, Saksi Bisu Cendikiawan Kerajaan Gowa Pada Zamannya – Bagi sebagian masyarakat Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, nama Karaeng Patingalloang mungkin tak asing. Ia dikenal sebagai diplomat ulung dan cendekiawan yang pernah dimiliki Kerajaan Gowa pada abad ke-15. Ia adalah putra Raja Tallo VII, Mallingkaan Daeng Nyonri Karaeng Matowaya. Tapi jika ditanya tahukah Anda dengan Museum Karaeng Patingalloang? Mungkin warga Kota Makassar dan Gowa belum banyak yang tahu. Bahkan mungkin di kalangan pelajar di dua daerah ini, masih asing dengan nama Museum Karaeng Patingalloang. Maklum, museum yang dikelola Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) ini masih tergolong jarang dikunjungi. Termasuk kalangan pelajar dan mahasiswa.

Walau kawasan ini resminya bernama Taman Miniatur Sulawesi Selatan, namun lebih sering diucapkan dan ditulis Kawasan Benteng Somba Opu. Sebab di kawasan ini, masih bisa dijumpai sisa-sisa reruntuhan tembok Benteng Somba Opu. Dalam beberapa catatan sejarah disebutkan bahwa benteng ini dibangun pada abad XV oleh Raja Gowa IX, Daeng Marante Tupasiri Kallonna (1550-1650). Benteng ini kemudian dihancurkan serdadu VOC Belanda saat perang dengan pasukan Kerajaan Gowa pada 1669. Perang ini kemudian dikenal sebagai Perang Makassar.

Museum Patinggalloang ini berada sekitar 40 meter dari depan Baruga Somba Opu. Baruga ini merupakan replika Istana Raja Gowa sebelum hancur saat Perang Makassar. Museum ini merupakan bangunan dengan konsep rumah panggung khas Sulawesi Selatan. Bangunan museum ini terdiri dua lantai dengan luas halaman kurang lebih 600 meter persegi. Bagian depan bangunan ini didominasi warna hijau. Mulai kaki tiang, lantai, hingga dinding bangunan museum ini, katanya, terbuat dari kayu ulin pilihan yang didatangkan dari Pulau Kalimantan.

Memasuki halaman depan museum ini, kita akan melihat meriam yang terbuat dari besi cor. Konon meriam inilah yang digunakan pasukan Kerajaan Gowa pada Perang Makassar. Apa ya isi museum tersebut? Penasaran mengetahui jawabannya, Koleksi Di museum ini terdapat beberapa potong baju adat seperti baju khas Bugis Bone, Makassar, dan Tana Toraja yang disimpan dalam etalase kaca. Namun baju adat koleksi museum ini bukan peninggalan keluarga Raja Gowa masa lampau, melainkan pengadaan tahun 1990-an. Koleksi lain yang bisa dijumpai di museum ini adalah beberapa tombak, pelatuk senjata api, dan bola pejal yang terbuat dari besi cor. Ada ukuran besar. Ada pula berukuran kecil. Konon barang-barang ini peninggalan Kerajaan Gowa.

 

Ada juga hasil ekskavasi berupa batu bata berbahan dasar tanah liat aneka ukuran yang menyusun tembok Benteng Somba Opu. Ada pula lempengan tanah liat yang konon digunakan orang Gowa masa lampau untuk menentukan waktu baik kala hendak menyelenggarakan hajatan semisal jadwal nikah atau hari baik membangun rumah. Beberapa alat kesenian yang terbuat dari logam, payung kerajaan Gowa, seperangkat alat pernikahan adat Makassar dan beberapa tempat buah dan makanan ala kerajaan yang terbuat dari ayaman daun juga bisa dijumpai di museum ini.

 

Tapi koleksi-koleksi ini bukan merupakan peninggalan Kerajaan Gowa masa lampau, melainkan buatan tahun 1990-an. Jika kita menengok ke langit-langit museum ini, kita bisa melihat lukisan berukuran kira-kira 2×3 meter persegi. Untuk mengamati lukisan ini, tak perlu kepala menengok ke langit-langit museum ini. Sebab, tepat di bawah lukisan ini, terdapat cermin ukuran besar. Cermin ini diletakkan di atas meja dan bisa digerakkan. Melalui cermin inilah kita bisa melihat lukisan ini dengan leluasa, tanpa leher sakit. Lukisan ini menggambarkan potret Benteng Somba Opu masa lampau saat masih belum dihancurkan. Pada lukisan ini, tampak secara arsitektural, benteng ini berbentuk segi empat dan tepat berada di bibir pantai serta diapit dua sungai yang merupakan cabang dari Sungai Jeneberang. Melihat potret Benteng Somba Opu yang tergambar dalam lukisan ini, wajar jika dikatakan letak benteng ini sangat strategis, baik dari sisi pertahanan maupun dari kemudahan dijangkau melalui transportasi sungai dan laut.

Karaeng Patinggalloang dikenal sebagai Tumabbicara Butta Kerajaan Gowa-Tallo (1639-1654). Nama lengkapnya I Mangadicinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud. Ayahnya adalah Raja Tallo VII, Mallingkaan Daeng Nyonri Karaeng Matowaya. Dalam beberapa catatan disebutkan, Karaeng Pattingalloang adalah Raja Tallo IX. Sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo, ia bertugas mendampingi Sultan Malikussaid yang memerintah Kerajaan Gowa (1639-1653). Jabatan itu didapatkannya setelah ia menggantikan ayahnya Karaeng Matowaya. Masa itu adalah masa kejayaan Kerajaan Gowa. Banyak pedagang Eropa menjalin kerja sama perdagangan dengan Kerajaan Gowa era itu. Pada zaman itu, kecerdasan Karaeng Pattingalloang melebihi orang-orang Bugis Makassar pada umumnya. Dalam usia 18 tahun, ia telah menguasai banyak bahasa. Di antaranya bahasa Latin, Yunani, Itali, Perancis, Belanda, Arab, dan beberapa bahasa lainnya. Konon, ketika ia ditawari hadiah dari rekan bisnisnya yang berasal dari sejumlah negara, Karaeng Patingalloang meminta hadiah berupa buku. Sungguh disesalkan karena buku-buku koleksinya tak ada yang bisa dilihat kini. Ini karena buku- bukunya ikut hancur bersama penghancuran Benteng Somba Opu yang dilakukan serdadu VOC Belanda.  Namun sebelum meninggal, ia pernah berpesan untuk generasi yang ditinggalkan antara lain sebagai berikut: Ada lima penyebab runtuhnya suatu kerajaan besar, yaitu:

  1. Punna tenamo naero nipakainga’ karaeng mangguka,
  2. Punna tenamo tumangngaseng ri lalang pa’rasangnga,
  3. Punna tenamo gau lompo ri lalang pa’rasanganga,
  4. Punna angngallengasemmi soso’ pabbicaraya,
  5. Punna tenamo nakamaseyangi atanna mangguka.

Yang artinya:

  1. Jika raja yang memerintah tidak mau lagi dinasihati,
  2. Jika tidak ada lagi kaum cerdik cendikia di dalam negeri,
  3. Jika sudah terlampau banyak kasus-kasus di dalam negeri,
  4. Jika sudah banyak hakim dan pejabat kerajaan suka makan sogok,
  5. Jika raja yang memerintah tidak lagi menyayangi rakyatnya.

Pesan Karaeng Patingalloang tersebut sungguh menunjukkan kecendekiawanannya. Walau diucapkan sekitar empat abad lampau, isi pesannya tetap aktual hingga kini. Bahkan mungkin hingga sepanjang masa.

Letak Museum Karaeng Pattingalloang

  • Dalam Kawasan Benteng Somba Opu Kelurahan Benteng Somba Opu Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan 90224 Lihat Detail Alamatnya Disini

Video Museum Karaeng Pattingalloang



Demikianlah Artikel mengenai Museum Karaeng Pattingalloang, Saksi Bisu Cendikiawan Kerajaan Gowa Pada Zamannya, semoga artikel ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua.[bp]

Museum Karaeng Pattingalloang, Saksi Bisu Cendikiawan Kerajaan Gowa Pada Zamannya | Daeng Bolang | 4.5
Leave a Reply
IBX5981A64F736A4