Breaking

Selasa, 07 Januari 2020

Legenda Buntu Sarira Tangga Ke Langit Yang Dihancurkan Puang Matua

Legenda Buntu Sarira Tangga Ke Langit Yang Dihancurkan Puang Matua - Konon dahulu kala hubungan antara manusia dan penghuni langit masih sangat dekat. Manusia di bumi setiap saat bisa berkunjung ke langit. Saat itu, bila manusia hendak melakukan suatu  kegiatan biasanya pergi ke langit untuk menanyakan boleh atau tidak hal tersebut dilakukan. Begitu juga penghuni langit, terutama Puang Matua sering berkunjung ke bumi untuk mengontrol cara hidup manusia. Hubungan itu bisa terjadi karena saat itu masih ada eran di langi ( tangga ke atas langit ) yang menghubungi langit dan bumi. Pada suatu hari, manusia berkunjung ke rumah Puang Matua di langit. Saat melintasi dapur Puang Matua, manusia melihat ada benda yang sangat aneh dan ia pun mengambilnya. Benda itu disebut  Batu te’tekan ( sejenis batu yang menghasilkan api digosok dengan benda lain). Pemantik api ajaib yang digunakan Puang Matua untuk menyalakan api di langit.

Penghuni langit gempar karena Batu te’tekan hilang. Semua dewa sakti di langit dikerahkan untuk mencari pemantik tersebut. Puang Matua mencurigai manusia bumi yang baru saja bertamu di rumahnya. Puang Matua marah, namun ia belum sampai hati menghukum manusia. Puang Matua masih bisa bersabar dan menahan amarahnya. Tersebutlah seorang bangsawan bernama Londong Dirura yang ingin menikahkan putra dan putrinya. Hal ini terjadi di Tana Toraja. Karena di daerah itu baru ada beberapa orang maka untuk mencari jodoh di luar keluarga tidaklah mungkin. Ketika kedua anak bangsawan itu telah dewasa, orang tuanya ingin menikahkan kedua bersaudara kandung itu. Seperti biasanya, setiap ada acara di bumi, harus dibicarakan dulu dengan Puang Matua. Londong Dirura segera memangiil seorang hamba bernama Mangi. Kata bangsawan itu, “Mangi “hambaku ! Saya mempunyai rencana menikahkan kedua anak saya. Karena itu saya mengutusmu ke langit. Tanyakan pada Puang Matua, bolehkah menikahkan orang yang bersaudara kandung” “Ya, tuan. Hamba akan laksanakan perintah tuan.” “Bila bertemu Puang Matua, utarakan maksudmu dan dengarkan baik- baik pesannya. Setelah itu, kamu harus langsung turun ke bumi sebab kedua anak itu sudah tidak sabar lagi menunggu hari bahagianya.” “Hamba mohon doa restu. Semoga hamba bisa kembali dengan cepat dan tidak mengalami gangguang apapun dalam perjalanan.”
Saat itu di dalam hati Mangi mulai muncul niat tidak baik. Lesempatan itu digunakan olehnya untuk membalas segala perlakuan tidak baik yang dilakukan tuannya pada dirinya sendiri selama ini. Sesudah bepamitan Mangi’ langsung pergi bersembunyi di semak- semak tidak jauh dari rumah tuannya. Setelah bersembunyi semalam suntuk di sana, hamba yang licik itu kembali menghadap tuannya. “Puang Matua merestui dan sangat gembira atas rencana tuan. Para dewa akan turun ke bumi, saat tuan menyelenggarakan pesta pernikahan anak tuan, dan sebelumnya tuan harus menggelar upacara Ma’bua (pesta syukuran atas kemurahan Tuhan yang biasanya dilangsungkan sekali dalam sepuluh tahun). Karena ini adalah syarat langsung dari Puang Matua. Kalau dilanggar kedua anak tuan tidak bisa dinikahkan.” Londong Dirura segera menyiapkan upacara Ma’bua. Ia menyebar berita ke daerah seberang agar warga di sana ikut menyaksikan pesta raksasa itu. Tidak lama kemudian, Toraja berubah menjadi lautan manusia yang datang dari berbagai daerah. Pada hari pelaksanaan pesta, Londong Dirura turun ke tempat upacara dengan memakai hiasan berupa tanduk kerbai berlapis emas. Ia datang ke lapangan tempat pesta dilangsungkan sambil diiringi teriakan- teriakan histeris. Pesta Ma’bua pun segera dimulai. Puang Matu di langit merasa gelisah. Iamendapat firasat di bumi pasti ada yang tidak beres. Puang Matua pun langsung turun dari langit menyaksikan perilaku manusia yang semakin aneh di bumi. Sesampainya di bumi, alangkah kagetnya hati Puang Matua menyaksikan penghuni bumi sedang mengadakan pesta rakyat. “Apa yang hendak kau lakukan dengan pakaian  dan tanduk seperti itu ?” “Saya hendak membuka upacara Ma’bua. Bukankah Puang Matua telah memerintahkan menggelar upacara ini sebelum saya mengawinkan kedua anak kandung saya ? dan katanya Puang Matua telah menyetujuinya asalkan terlebih dahulu membuat pesta Ma’bua.” “Saya tidak pernah kedatangan utusan dari bumi akhirnya akhir ini.”kata Puang Matua geram.
Londong Dirura sadar kalau ia telah ditipu oleh Mangi,”hambanya yang licik. Segera diperintahkannya untuk menangkap Mangi’ yang telah menipu Londong Dirura. Mangi’ mengaku bahwa sebenarnya ia tidak berangkat ke langit, namun hanya bersembunyi di semak- semak. Sejak saat itu, Mangi’ diusir dari rumah tuannya. Melihat perilaku manusia yang semakin tidak baik, marahlah Puang Matua. Kesalahan- kesalahan beruntun yang dilakukan manusia itu tidak bisa lagi dimaafkan. Maka dengan sangat marah, Puang Matua dan segenap rombongannya kembali ke langit.
Sesampainya di langit, Puang Matua menumpahkan amarahnya. Ia langsung menendang tangga yang menghubungkan bumi dan langit. Tangga itu langsung berserakan dan menimpa manusia di bumi. Halaman menjadi retak dan terbuka sehingga air memancar dari dalam tanah. Dalam sekejap saja, daerah itu telah digenangi air dan menjadi lautan. Pesta Ma’bua dan rencana pernikahan anak- anak Londong Dirura pun tidak jadi dilangsungkan.Tangga yang berserakan dan menimpa banyak orang itulah, menurut kepercayaan orang Toraja menjadi guguisan pegunungan batu yang terbentang di daerah Propinsi Sulawesi Selatan mulai dari Kabupaten Inrekang sampai ke Toraja. Di Toraja, gugusan pegunungan itu disebut Gunung Sarira.[bp]